Assalamualaikum
Dini hari, semua! *semuajugatau*. Masih di edisi meriang. Tenang! Saya nggak bakalan curhat, kok. Ceritanya gini*lhainicurhat*:
Barusan kebangun. Sesuai refleks mahasiswa, satu hal yang terlitas di benak saya: lapar. Tanpa ba-bi-bu, saya memulai pengembaraan ke arah timur guna mencari kitab suplai makanan. “Mas, tahu goreng satu porsi. Nasinya biasa, sambelnya yang banyak, minumnya air putih aja” Kataku pada mas-mas nasi uduk. Memang mahasiswa tulen. Setelah 5 menit penantian panjang, sajian terhidang dan genderang makan mulai ditabuh. Tak dinyana, musuh menyerang lebih dulu. Dia tersenyum bahagia.

Apaan nih? Baygon?
Pahit bo rasanya! Begitulah, amunisi musuh yang dilancarkan terhadap benteng nafsu makanku cukup efektif. Oooo, saya nggak mau kalah. Hajaaarrr! Lha kok, makin nyuap kok malah makin pahit? Waduh piye iki? Kata mbah Sun Tzu: “Barangsiapa yang paham diri dan musuhnya, dia tidak perlu takut kekalahan.” Ternyata meriang sang musuh sudah tahu pasti bahwa nafsu makan berpengaruh terhadap daya makan saya. Well, That’s not completely right. Tandas juga itu tahu dan antek-anteknya. Sulit kalo perut sudah angkat bicara. 1-0 untuk gw.
“Pahit dan meriang. Hmmm, hubungannya dimana ya?” Lupa kalo lagi sakit, saya langsung buka kitab keramat sepulang makan.
Ting nung. Gak ketemu. Hehe
Weeits, saya nggak menyerah. Akhirnya saia bermeditasi sejenak, berharap ada wahyu turun. Plus makanan.
Banyak teori-teori berseliweran. Orang a ngomong tentang banyaknya bakteri. Orang b ngendika tentang ketidak seimbangan energi Qi. Ada yang bilang dehidrasi trus saliva gak cukup. Yang lain bilang enzim gak ada waktu sakit *emang di lidah ada enzim apa aja broo??*. Beberapa berpendapat korelasinya antara pusat suhu dengan pusat persepsi rasa di otak saling tumpang tindih. Sama kayak orang bangun tidur ditanya: “Eh mas, cos 354 berapa?”. Pasti dia jawab: “Mbah Man, mas”. Menarik nih. Namun sayang, tidak dilengkapi bukti yang jelas.
Karena rasa tidak hanya dipersepsikan dari pengecapan. Penciuman penghiduan juga berpengaruh. Boleh juga teorinya. Jika salah satu atau keduanya bermasalah, rasa akan bohong. Kalo nggak percaya, silakan makan melon dilanjutkan dengan makan mentimun. Dengan hidung tertutup, tentunya. Bisa bedain jelas gak? But, wait. Tadi gw masi membau armpit-nya temen. Gugur.
Dengan sinar mata yang sisa kekuatannya 1 candle light, masih berjuang.
*Syuuur*Bak adrenaline rush, saya terjaga 100%. Ternyata gara-gara obat! Sodara, Proc*ld bisa mengganggu indra pengecap! Itu obat mengandung paracetamol/acetaminophen, pseudoephedrine HCl kawannya ephedrine dan Chlorpheniramine Maleat alias CTM. Nah, usut punya usut paracetamol dan pseudoephedrine menyebabkan lidah berasa aneh (Giudice, 2006). Mekanisme detilnya belum pasti. Namun inti penelitian menunjukkan: keduanya berkontribusi dalam ketidak enakan di lidah.
Tapi beberapa orang sudah berasa pahit sebelum minum obat. Wadoh. Cari lagi dewh.
Beberapa bilang, penyebabnya idiopathic: Kagak tau pasti. Semangat mulai down.
Akhirnya pencarian berakhir pada teori “Indonesia Raya”. Inflamasi. Peradangan. As simple as hell.
Kan waktu flu (common cold .red) ada infeksi. Jika ada infeksi, ujung-ujungnya duit beli obat peradangan. Nah, peradangan inilah yang bikin ulah. Baik peradangan di area lidah dan/atau hidung maupun di serabut-serabut saraf yang ngirim sinyal ke otak. Kalo yang lapor rasa rusak atau kabel teleponnya rusak, kan pesannya gak tersampaikan sempurna (Leopold, 2012).
Saat peradangan itu mereda, redalah gangguan rasa tersebut. Simpel gilak.
Nah gimana cara ngilanginnya?
Yang berpendapat bahwa penyebabnya obat, menyarankan kontrol kembali penggunaan obat ybs dan tambahkan preparat Zinc. Bukan seng yang buat atap itu. Bukan. Karena Zinc kata ibu tadi dapat menurunkan efek samping tersebut.
Pak Leopold memberikan solusi: Cari penyebab pastinya. Dalam hal ini inflamasi –> Infeksi. Sejalan dengan berakhirnya common cold tadi, dijamin gangguan rasa hilang.
Wokelah. Saya pribadi cukup puas dengan teori inflamasi yang dipaparkan pak Leopold. Bagaimana dengan anda?
CMIIW
Kepustakaan
- Giudice, Mirella. Taste disturbances linked to drug use. Canadian Pharmacists Journal 2006; 139: 70-71
- Leopold, Donald. Disorders of Taste and Smell. Available: http://emedicine.medscape.com/article/861242-overview#showall. (Accessed September 17, 2012)