GWS, My Glasses

Assalamualaikum

Sore ini dihiasi dengan mood yang nggak enak.

Ceritanya tadi tidur-tiduran ngorok. Emang resiko kali ya, ngelanggar pamali. Hal pertama yang kucari pas bangun adalah kacamata. Langsung pake. Ada yang aneh ni. Bengkok dia. Damn! Guys with glasses would know what it feels like.

“Rhooooooooooooaaaaaaaaaaghhhrrrrr!!!!”, aum gue. Ngamuk, saya ngacak-ngacak kamar yang emang udah acak-acakan. Jadi hasilnya sama aja. Hehe.

Kalo ada asap pasti ada api. Saya ngambil nunchaku di dinding lantas mengacungkannya ke setiap hidung penghuni kontrakan. “Elu yang nginjek kacamata gue yah?”, bentak saya. Dua orang terinterogasi dan nihil. Yang jelas, kacamata saya nggak enak dipake dan terlihat remah roti beserta toples yang isinya entah menguap ke mana.

Well, daripada marah gak jelas mendingan buka facebook. Eh, malah tambah gak mood. Buka groups,  ada temen yang nawarin jasa bikin kaos. Lumayan lah. Mumpung lagi pengen bikin kaos.

Yah pokoknya gitu. Nothing special today. Tutorial kayak biasanya, crush yang bertingkah kayak biasanya, godain dia, ngumumin soal rapat besar senin besok, dikejar-kejar editor, dsb. Sebenernya banyak yang special sih. Berhubung nggak moody banget, yoweslah. Merelakan ledakan-ledakan pikiran untuk menguap oleh panasnya hati. Dan gue, masih berkutat dengan kacamata dan lem uhu.

Hujan

Hal pertama yang teringat adalah: Jemuran! To the pemean, at the double!

Phew! Selamat sudah pakaian esok hari. Masak iya, besok kuliah pake kain sarung? “Sholat Dhuha, Pak Haji?”, bisa-bisa ditanya gitu nanti.

Setelah sibuk mengeringkan diri yang basah karena drama penyelamatan jemuran, saya tertegun memandang halaman rumah. Pikiran berkecamuk. Kelebat demi kelebat bayangan lewat. Kata orang sih, hujan membuat indera manusia menajam, termasuk otak. Ia akan mampu diajak bekerja lebih. Makanya, orang galau kebanyakan saat hujan.

Pun aku. Eeeaaaaaa….

Jadi, kukumpulkan fragmen-fragmen jiwa, kususun aksara demi aksara, dan kuterjemahkan dalam tulisan berima:

 

Awan hitam menyelimuti cakrawala

Cepat berlomba dengan lambat kepak bidadari surga

Mentari meringkuk bersembunyi

Pijarnya kian melemah, sembilu hujan akhirnya menusuknya mati

Dinda, sesuatu telah berubah

Cerah menjelma basah

Dan riuh rendah rintiknya membuatku resah

Saat karenanya, birama cinta tak lagi terdengar indah

 

Sebenarnya ini dokumen lama, sih. Tapi gapapa, kan? Daripada galau gak jelas…

Selamat menikmati hujan!

Pahit pahit pahit! Tanya Kenapa?

Assalamualaikum

Dini hari, semua! *semuajugatau*. Masih di edisi meriang. Tenang! Saya nggak bakalan curhat, kok. Ceritanya gini*lhainicurhat*:

Barusan kebangun. Sesuai refleks mahasiswa, satu hal yang terlitas di benak saya: lapar. Tanpa ba-bi-bu, saya memulai pengembaraan ke arah timur guna mencari kitab suplai makanan. “Mas, tahu goreng satu porsi. Nasinya biasa, sambelnya yang banyak, minumnya air putih aja” Kataku pada mas-mas nasi uduk. Memang mahasiswa tulen. Setelah 5 menit penantian panjang, sajian terhidang dan genderang makan mulai ditabuh. Tak dinyana, musuh menyerang lebih dulu. Dia tersenyum bahagia.


Apaan nih? Baygon?

Pahit bo rasanya! Begitulah, amunisi musuh yang dilancarkan terhadap benteng nafsu makanku cukup efektif. Oooo, saya nggak mau kalah. Hajaaarrr! Lha kok, makin nyuap kok malah makin pahit? Waduh piye iki? Kata mbah Sun Tzu: “Barangsiapa yang paham diri dan musuhnya, dia tidak perlu takut kekalahan.” Ternyata meriang sang musuh sudah tahu pasti bahwa nafsu makan berpengaruh terhadap daya makan saya. Well, That’s not completely right. Tandas juga itu tahu dan antek-anteknya. Sulit kalo perut sudah angkat bicara. 1-0 untuk gw.

“Pahit dan meriang. Hmmm, hubungannya dimana ya?” Lupa kalo lagi sakit, saya langsung buka kitab keramat sepulang makan.

Ting nung. Gak ketemu. Hehe

Weeits, saya nggak menyerah. Akhirnya saia bermeditasi sejenak, berharap ada wahyu turun. Plus makanan.

Banyak teori-teori berseliweran. Orang a ngomong tentang banyaknya bakteri. Orang b ngendika tentang ketidak seimbangan energi Qi. Ada yang bilang dehidrasi trus saliva gak cukup. Yang lain bilang enzim gak ada waktu sakit *emang di lidah ada enzim apa aja broo??*. Beberapa berpendapat korelasinya antara pusat suhu dengan pusat persepsi rasa di otak saling tumpang tindih. Sama kayak orang bangun tidur ditanya: “Eh mas, cos 354 berapa?”. Pasti dia jawab: “Mbah Man, mas”. Menarik nih. Namun sayang, tidak dilengkapi bukti yang jelas.

Karena rasa tidak hanya dipersepsikan dari pengecapan. Penciuman penghiduan juga berpengaruh. Boleh juga teorinya. Jika salah satu atau keduanya bermasalah, rasa akan bohong. Kalo nggak percaya, silakan makan melon dilanjutkan dengan makan mentimun. Dengan hidung tertutup, tentunya. Bisa bedain jelas gak? But, wait. Tadi gw masi membau armpit-nya temen. Gugur.

Dengan sinar mata yang sisa kekuatannya 1 candle light, masih berjuang.

*Syuuur*Bak adrenaline rush, saya terjaga 100%. Ternyata gara-gara obat! Sodara, Proc*ld bisa mengganggu indra pengecap!  Itu obat mengandung paracetamol/acetaminophen, pseudoephedrine HCl kawannya ephedrine dan Chlorpheniramine Maleat alias CTM. Nah, usut punya usut paracetamol dan pseudoephedrine menyebabkan lidah berasa aneh (Giudice, 2006). Mekanisme detilnya belum pasti. Namun inti penelitian menunjukkan: keduanya berkontribusi dalam ketidak enakan di lidah.

Tapi beberapa orang sudah berasa pahit sebelum minum obat. Wadoh. Cari lagi dewh.

Beberapa bilang, penyebabnya idiopathic: Kagak tau pasti. Semangat mulai down.

Akhirnya pencarian berakhir pada teori “Indonesia Raya”. Inflamasi. Peradangan. As simple as hell.

Kan waktu flu (common cold .red) ada infeksi. Jika ada infeksi, ujung-ujungnya duit beli obat peradangan. Nah, peradangan inilah yang bikin ulah. Baik peradangan di area lidah dan/atau hidung maupun di serabut-serabut saraf yang ngirim sinyal ke otak. Kalo yang lapor rasa rusak atau kabel teleponnya rusak, kan pesannya gak tersampaikan sempurna (Leopold, 2012).

Saat peradangan itu mereda, redalah gangguan rasa tersebut. Simpel gilak.

Nah gimana cara ngilanginnya?

Yang berpendapat bahwa penyebabnya obat, menyarankan kontrol kembali penggunaan obat ybs dan tambahkan preparat Zinc. Bukan seng yang buat atap itu. Bukan. Karena Zinc kata ibu tadi dapat menurunkan efek samping tersebut.

Pak Leopold memberikan solusi: Cari penyebab pastinya. Dalam hal ini inflamasi –> Infeksi. Sejalan dengan berakhirnya common cold tadi, dijamin gangguan rasa hilang.

Wokelah. Saya pribadi cukup puas dengan teori inflamasi yang dipaparkan pak Leopold. Bagaimana dengan anda?

CMIIW

Kepustakaan

  1. Giudice, Mirella. Taste disturbances linked to drug use. Canadian Pharmacists Journal 2006; 139: 70-71
  2. Leopold, Donald. Disorders of Taste and Smell. Available: http://emedicine.medscape.com/article/861242-overview#showall. (Accessed September 17, 2012)

Tepar

Assalamualaikum

Well, I’m unwell.

Ya, saya agak meriang. But that shouldn’t be a problem. Shouldn’t. Kenyataannya, yaaa… tepar.

Semua ini gara-gara terlalu semangat muter-muter pekanbaru cari vendor kaos. Mendingan kalo siang. Malem! Ditambah lagi seminggu lalu memforsir stamina waktu LKMM. Phew!

Padahal gak jauh-jauh amat

Yah, ambil hikmahnya aja deh: Ada yang nelfonin, ada yang beliin bubur, ada yang ngejek-ngejekin, ada yang bangunin pake kaki. Maksud dia baik kali. Ngecek gw masi idup apa udah dut.

Rasulolloh S.A.W bersabda: “Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim).

Asik gak? So, ch3mMung9Ud|-| 3a44!

Doanya ya?

Adu Kambing

Assalamualaikum Warohmatulloh

19 Oktober 1987 merupakan tanggal kelam dalam sejarah perkereta apian Indonesia. Bagaimana tidak? kepala KA 225 tujuan Rangkasbitung mencium lokomotif rangkaian KA 220 tujuan Tanah Abang-Merak, head-on collision. Ya, tragedi bintaro. Tercatat 150-an jiwa meninggalkan jasad mereka. Ratusan luka-luka. Maka untuk mereka: Al-Fatihah.

Pagi depan ruang rektorat, saya ketemu orang. A complete stranger. Seorang pemuda tanggung. Dia nanya: “Ini ruangannya dr. Susi -warektor kami, ya?” Wait. My sense is tingling. Soalnya beliau pasang wajah masam. Selain itu, saya nggak mau dia ntar kemudian masuk dan berujung diusir mentah-mentah mengingat sepertinya dia belum terikat appointment.

Betul, pemuda tersebut lantas menanyakan cara ketemu wakil rektor. Emang dasar muka information desk. Tidak berhenti sampai sebatas menjawab pertanyaan dia, saya interogasi perihal motifnya. “Adik saya ada masalah dengan salah satu dosen, mas”, ujarnya. Waduh. Ngobrol lama, akhirnya masalahnya masih sebatas konflik interpersonal. Si adik merasa sudah cukup menghargai dosen yang bersangkutan dan si dosen merasa si adik mengacuhkan titahnya.

Hampir sejaman kami bercakap. Dia masih bersikukuh ingin ketemu warektor guna mencari solusi permasalahan adiknya, walaupun sudah mati hidup-hidupan saya bilang jangan gitu caranya.

Kok jangan?

Kalo dalam teori seni silat manapun, haram hukumnya mengkonfrontir kerasnya bogem lawan dengan tinju kita. Apalagi dengan muka telanjang. Jangan. Pasti para pelatih akan mengajarkan cara meng-convert kekuatan pukulan lawan menjadi advantage bagi kita.

Sama halnya dengan kasus tadi. Sepatutnya pemuda tadi menyelesaikan konfilk interpersonal diatas dengan cara baik-baik. Maksud saya bukan mengatakan bawha menghadap warektor langsung tidak baik. Namun alangkah baiknya jika masalah pribadi diselesaikan dengan hati ke hati dengan kepala dingin, bukan dengan pendekatan struktural rektor ke dosen. Alih-alih berujung win-win solution, konflik berkepanjangan justru didapat.

Okelah menurut si adik pemuda tadi kesalahan terletak di diri dosen. Apakah kekejaman harus dibalas kekejaman, tit for tat? Kan enggak. Masih banyak kok solusi yang lain.

Bertamu ke rumah dosen tersebut, misal. Kan enak tuh. Kita datang sebagai tamu, tidak sebagai anak didik. Dapet makanan gratis lagi. Dasar mental anak kos.

Learn, you young lad! Bukankah tragedi bintaro merupakan tabrakan adu kambing?

Jrengg

Assalamualaikum Warohmatulloh

Wah udah lama gak nge-blog nih *plaak* #ditabokjin. Oke oke oke, ini postingan pertama saya. Dasar jin kolot. Gak ngertiin banget sih. Well, better late than never. Rite?

Despite everything, ya inilah saya dengan kegaptekan dan keterlambatan media. Kok jadi curhat? Sabodo amat. Ini berawal dari kompor-komporan teman saya. Alkisah, beberapa insan manusia yang baru bertemu sedang duduk dan kenalan. Salah satu dari mereka memberi ide: “Eh, gimana kalo kita kenalannya ditambahi “tentang cinta”. Sontak gw terhenyak dan megangin area yang seharusnya tidak boleh dijamah saat ini, my pandora box: hati. Akhirnya tiba giliran saya. Entah mengapa kalimat demi kalimat mengalir kayak disentri. Seselesainya curcol saya, mereka terdiam. Semenit. Dua menit. Nghrooookkk. Kampret.

Lalu salah seorang dari mereka ngomong: “Eh gila keren banget. Lu pasti punya blog ya?”. Dan gw terdiam dengan manis. “Iya, rumah gw di blok C”, jawabku.

Dari sinilah saya tersadar. Nge-blog memang bukan salah satu tri dharma perguruan tinggi. Namun, pengejawantahan greget cuap cuap dianggap perlu. Abstrak banget yah?

Well, that’s it. Selamat menulis.

Design a site like this with WordPress.com
Get started