Sudden Realisation: Dawn

Assalamualaikum

Dini hari, manteman sekalian

Lama nggak nongol nih. Keasyikan macul, sih.

Mencoba sejenak lari dari hiruk-pikuk dunia dan bertapa di WC.

Dia tidak pernah bermain dadu. Adalah kebaikan hambaNya yang Ia prioritaskan dalam mengkonduktori orkestra kehidupan. Walaupun kebaikan itu jauh dari nalar akal manusia yang memang ada batasnya, dari kacamata manusia tentu. Entah efeknya muncul di kemudian hari atau di kehidupan selanjutnya, Wallohu a’lam. Yang pasti, mereka yang percaya hal itu kehidupannya terdengar seperti partitur paling merdu.

Aku ngelantur opo to?

Emboh.

Well, something happened. Dan itu ada kaitannya dengan hati.

Mulai… curcol… :/

Seseorang pernah bilang: “Cinta itu buta. Maka jika kamu ingin melihat, lihatlah sebelum kamu jatuh cinta”

Untungnya aku belum jatuh terlalu dalam. Jadi gak buta-buta amat.

Justru aku berterima kasih pada dia yang seharusnya membuatku cemburu. He saved me.

Maka inilah aku, mencoba membuka mata yang dulu buta. Walau harus memandang pilu senja yang berlalu bersama selendang malam yang menjemputnya. Mengapa matahari terasa hangat memeluk saat ia sebentar lagi sirna?

Tenang, mas. Besok akan ada matahari yang terbit lagi. Membawa kehangatan fajar setelah dingin malam yang menusuk sampai hati, ujarku pada cermin di kamar mandi.

Hujan-2

Assalamualaikum

Yak, bosen baca textbook yang bahasanya memabukkan. Padahal besok tutorial. ヽ(`∀´)ノ *mulaigila*.

Tutorial adalah suatu aktifitas akademis dimana para mahasiswa saling bertukar pikiran demi terhimpunya suatu kesepakatan bersama atas sebuah pemicu berdasarkan sumber yang tepercaya. #plak. Iya, diskusi. Gak pake nabok, napa?

Dan hujan. Layaknya mendengar musik yang nge-beat, gw berinisiatif menari. Menari dengan aksara, tentu. *galau*

Deraskan saja bahakmu, mendung sialan!

Toh aku sudah kuyup karena hujan

 

Jika yang hendak kau basahi hanya sesukamu

Hentikan kemurahan hatimu yang semu

 

Sebab aku sedang menjemur pakaian

Pergi dengan tawamu, mendung sialan!

 

Haha. Jemuran. Yang ngikutin akun fb gw pasti tau.

Easy breda! One love.

Hujan

Hal pertama yang teringat adalah: Jemuran! To the pemean, at the double!

Phew! Selamat sudah pakaian esok hari. Masak iya, besok kuliah pake kain sarung? “Sholat Dhuha, Pak Haji?”, bisa-bisa ditanya gitu nanti.

Setelah sibuk mengeringkan diri yang basah karena drama penyelamatan jemuran, saya tertegun memandang halaman rumah. Pikiran berkecamuk. Kelebat demi kelebat bayangan lewat. Kata orang sih, hujan membuat indera manusia menajam, termasuk otak. Ia akan mampu diajak bekerja lebih. Makanya, orang galau kebanyakan saat hujan.

Pun aku. Eeeaaaaaa….

Jadi, kukumpulkan fragmen-fragmen jiwa, kususun aksara demi aksara, dan kuterjemahkan dalam tulisan berima:

 

Awan hitam menyelimuti cakrawala

Cepat berlomba dengan lambat kepak bidadari surga

Mentari meringkuk bersembunyi

Pijarnya kian melemah, sembilu hujan akhirnya menusuknya mati

Dinda, sesuatu telah berubah

Cerah menjelma basah

Dan riuh rendah rintiknya membuatku resah

Saat karenanya, birama cinta tak lagi terdengar indah

 

Sebenarnya ini dokumen lama, sih. Tapi gapapa, kan? Daripada galau gak jelas…

Selamat menikmati hujan!

Design a site like this with WordPress.com
Get started