Kemana, bung?

Assalamualaikum

Tidak, saya bukan kondektur bus dan terima kasih picisannya. Ngomong-ngomong soal bus, ada kelakar: Orang Inggris itu nggak konsisten. Cobak aja. Tulisannya “bus”, bacanya “bas”, dan artinya “bis”. Haha *ketawagaring*. Penasaran, gw buka KBBI dan hasilnya: Dalam bahasa Indonesia, benda tersebut namanya bus dan bacanya bus juga. Artinya juga begitu. Ternyata Orang Indonesia konsisten. Engrish fail!

Eniwei, tadi saya ke kampus fakultas kedokterannya UR. Sharing tentang Tim Bantuan Medis. Sekalian cuci mata. Bosen kan, liat yang itu-itu aja. Hehe. Bangunannya, yang saya maksud. 😀

Kami, anak Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Abdurrab membawa bala tentara sepeleton yang lapar berat. Ilmu tentang TBM adalah rainbow cake yang jarang dimakan kopral. Bahkan jarang tentara yang tahu tentang cake tersebut. Ya, kami sedang merintis berdirinya TBM di prodi kami. Sebagai pencontek ulung pionir, kami bertandang ke markas TBM FKUR dengan misi mencari masukan yang sebanyak-banyaknya demi berdirinya TBM.

Kami duduk, dan “laskar perintis” *ceilah* TBM FKUR sedang mempresentasikan UKM mereka. Dan gw dengan tampannya ngobrol sendiri di belakang. Emang gak niat ni orang satu. Eh, ralat. Gak mungkin kan, ngobrol sendiri? Ngobrol bertiga. Saya dan dua insan manusia dengan hasduk biru yang mengalung cantik. Atribut khas. Niat untuk mencekik salah satu dari mereka dengan hasduknya sendiri saya urungkan. WTF, brain?

Brain… Wat r u doin? Brain… STAHP!

Sontak saya tekan tombol stop guna mengakhiri adegan cekik-mencekik di otak saya. Takut terjadi beneran.

Ternyata, dua homo sapiens tadi adalah ketua dan sekretaris TBM. Untung gw nggak caci TBM mentah-mentah sewaktu ngobrol. Bisa-bisa gw dibius pake kurare dan mereka ngelitikinku dan gw gak bisa gerak. Sadis.

Back to the presentation had being delivered, gw atensi sama pernyataan bang Citra, salah satu founder TBM FKUR. Dia bilang: “Percuma jika sekelompok orang dan mereka nggak commit. Mending bubar. Lha, gimana bisa commit saat commitment yang harus dipegang nggak ada.” Perkataan beliau gw modif. Secara gw poor banget dalam hal ingat-mengingat. Pokoke intinya gitu.

Hem. Betul tuh apa yang dinyatakan bang Citra. *halah*. Ideologisasi dan pengakaran adalah mutlak. Okelah, komitmen tentang tujuan sekelompok orang yang bertujuan sama masih terpegang teguh saat ia masih hangat. Namun, apakah hal ini berlangsung abadi? Nggak ada salahnya jika lauk kemarin malam dihangatkan lagi, kan?

Jadi inget alun-alun kidul Jogja dan mitos beringin kembarnya: masangin. Emang siapa sih yang bisa jalan lurus dari ujung lapangan sampai ke antara dua beringin kembar itu? Lu gimana?

I dare you!

Sama seperti belanja. Terkadang kita lupa prioritas belanja karena keasyikan.

Boring, ah. Dengerin repetisi visi ini, repetisi misi itu.

Emangnya ideologisasi hanya dengan penyampaian visi dan misi secara formal? Kan enggak. Be creative, guys! Sisipin dengan gaya bahasa yang nyantai waktu ngobrol, et cetera. Pikir dewek.

Ah udah ah. Besok ada tutorial.

Well, then. Bukankah kondektur bus yang tidak meneriakkan tujuan bus secara jelas tidak mendapat penumpang satupun?

 

 

 

Adu Kambing

Assalamualaikum Warohmatulloh

19 Oktober 1987 merupakan tanggal kelam dalam sejarah perkereta apian Indonesia. Bagaimana tidak? kepala KA 225 tujuan Rangkasbitung mencium lokomotif rangkaian KA 220 tujuan Tanah Abang-Merak, head-on collision. Ya, tragedi bintaro. Tercatat 150-an jiwa meninggalkan jasad mereka. Ratusan luka-luka. Maka untuk mereka: Al-Fatihah.

Pagi depan ruang rektorat, saya ketemu orang. A complete stranger. Seorang pemuda tanggung. Dia nanya: “Ini ruangannya dr. Susi -warektor kami, ya?” Wait. My sense is tingling. Soalnya beliau pasang wajah masam. Selain itu, saya nggak mau dia ntar kemudian masuk dan berujung diusir mentah-mentah mengingat sepertinya dia belum terikat appointment.

Betul, pemuda tersebut lantas menanyakan cara ketemu wakil rektor. Emang dasar muka information desk. Tidak berhenti sampai sebatas menjawab pertanyaan dia, saya interogasi perihal motifnya. “Adik saya ada masalah dengan salah satu dosen, mas”, ujarnya. Waduh. Ngobrol lama, akhirnya masalahnya masih sebatas konflik interpersonal. Si adik merasa sudah cukup menghargai dosen yang bersangkutan dan si dosen merasa si adik mengacuhkan titahnya.

Hampir sejaman kami bercakap. Dia masih bersikukuh ingin ketemu warektor guna mencari solusi permasalahan adiknya, walaupun sudah mati hidup-hidupan saya bilang jangan gitu caranya.

Kok jangan?

Kalo dalam teori seni silat manapun, haram hukumnya mengkonfrontir kerasnya bogem lawan dengan tinju kita. Apalagi dengan muka telanjang. Jangan. Pasti para pelatih akan mengajarkan cara meng-convert kekuatan pukulan lawan menjadi advantage bagi kita.

Sama halnya dengan kasus tadi. Sepatutnya pemuda tadi menyelesaikan konfilk interpersonal diatas dengan cara baik-baik. Maksud saya bukan mengatakan bawha menghadap warektor langsung tidak baik. Namun alangkah baiknya jika masalah pribadi diselesaikan dengan hati ke hati dengan kepala dingin, bukan dengan pendekatan struktural rektor ke dosen. Alih-alih berujung win-win solution, konflik berkepanjangan justru didapat.

Okelah menurut si adik pemuda tadi kesalahan terletak di diri dosen. Apakah kekejaman harus dibalas kekejaman, tit for tat? Kan enggak. Masih banyak kok solusi yang lain.

Bertamu ke rumah dosen tersebut, misal. Kan enak tuh. Kita datang sebagai tamu, tidak sebagai anak didik. Dapet makanan gratis lagi. Dasar mental anak kos.

Learn, you young lad! Bukankah tragedi bintaro merupakan tabrakan adu kambing?

Design a site like this with WordPress.com
Get started