Gw Kambing

Assalamualaikum semua!

Jangan anggap serius judul diatas. I mean, walau saya berbau agak prengus saya tetap bani Adam. Dengan jenggot menjulur indah seperti…. EHEM. Sepertinya tidak usah dilanjutkan.

Kan gini:

Saya pernah menyinggung tentang adu kambing di postingan sebelumnya, tentang bintaro hingga mengadu kambing.

 

Yin & yang. Inner peace.

Dan kemarin kejadian.

Gw yang jadi “kambing” a, dan warektor yang sama sebagai, ehem, b.

Sebenernya saya nggak ngerasa seperti itu, sih. Cuman, beberapa kawan yang memiliki gyrus otak lebih banyak menyatakan demikian. Dan gw sebagai kain gombal yang tercelup avtur sontak terbakar yang segera merembet ke tanki bahan bakar sebuah mobil yang sedang diisi di suatu SPBU, dimana dibawah SPBU tersebut terdapat saluran pipa gas menuju kilang minyak tak jauh dari pusat kota.

Semua berawal dari iuran. Kita mengadakan turnamen futsal antar angkatan. Butuh dana dong, tentunya. Akhirnya kami rencana iuran untuk nalangin biaya sewa lapangan dan wasit beserta cengkonek-cengkonek lain.

Si nfenfjnejfjcjabcjabjcbecbe tiiiiiiiiitt (sensor) nggak setuju rupanya. Memang dia cukup vokal dalam masalah duit perduitan. Awalnya kami nggak detect itu. Namun setelah sehari dua hari, ada aroma tidak sedap. Parahnya, ybs mengantarkan makanan dengan bau menusuk tsb ke meja rektorat dalam nampan saji. Walhasil, konsumen tidak puas dengan hasil masakan sang koki. Dipanggillah sang koki malang itu.

Well, the dust is settled now. Nothing to worry about. Paling cuman ybs esoknya ngampus dengan beberapa memar di wajah. Hehe becanda.

Intinya adalah masalah kelaikan. Kan, wala taziru wazirotun wizro ukhro. Tidaklah seseorang menanggung dosa milik orang lain. Kalo ada masalah ke orang a, hendaklah ngomong secara kepala dingin dengan orang a, tidak dengan x, y, atau A besar.

Emosi tidak menyelesaikan masalah.

Gw ngelantur apa ya? Ah emboh.

Hape

“Hapeku mana?”, jeritku dalam hati. Ternyata tertindih di sebalik bantal. Sejurus kurenggut. Tidak ada ikon surat atau gagang telepon berwarna merah. *sigh

Aku masih terduduk. Mengalihkan pandangan dari telepon seluler ke sekelilingku. Kasur sederhana dengan selimut dan bantal yang sekarang bukan berada di tempat yang seharusnya. Segelas kopi yang tinggal ampsanya mengingatkan malam yang aku terjaga bersamanya. Seingatku, angka 02:15 lah yang kulihat sebelum aku benar-benar terlelap. Di sampingnya, buku materi kuliah yang seharusnya kubaca tadi malam belum terjamah sejak kemarin siang.

Kudekatkan kembali telepon selulerku ke wajahku. Riwayat pesan. Tercatat 79 pesan masuk sejak kemarin siang, tidak termasuk pesan keluar yang kurang lebih sama jumlahnya. Layaknya lepas makan eskrim, menjilati luberan di tangan sungguh nikmat. Maka kubuka kembali isi pesan demi pesan, walau tidak semuanya. Aku tersenyum.

Low battery. Tanpa diperintah, aku mengambil catu daya dan menghubungkannya dengan telepon selulerku. “Kok nggak masuk ya?”, gumamku. Lampu indikatornya tidak menyala. Pasti mati lampu.

Mati lampu, namun kamar sudah terang. “Jiah, udah jam setengah enam”, sadarku. Dan aku belum sholat subuh! Sejurus kuambil air wudu lantas sholat.

Lepas sholat, aliran listrik kembali seperti yang seharusnya. Aku kembali sibuk dengan seluler android keluaran terbaru milikku. Sebenarnya tidak ada alasan pasti mengapa aku memilih smartphone satu itu. Hanya mengikuti trend. Sebab aku sama sekali tidak tertarik dengan beragam aplikasi yang ditawarkan. Bagiku, se-smart apapun ia, tetap saja namanya phone. Alat komunikasi. Yang pasti, “dia” menggunakan handphone yang sama denganku. Ah, entahlah.

“Selamat pagi,….”, ketikku dalam pesan singkat kepada orang yang sedari kemarin aku berhubungan dengannya. Gayung bersambut, tak sampai 2 menit ia membalas. Dari titik itu, aku tidak lagi peduli dengan sekelilingku. Bahkan terhadap teman serumah yang nampaknya belum sholat subuh juga. “Ah, mungkin ia sudah solat sebelumku”, pikirku, mengigat sajadah yang masih terhampar di depan kamarku -dimana kami serumah sering sholat, yang kulihat sebelum sholat subuh tadi.

Seharusnya aku mengikuti titah ibuku: “Nak, bakda subuh itu bagusnya kamu baca Quran. Biar otakmu selalu diisi denganyang baik-baik sejak bangun tidur”. Well, besok kan masih ada waktu.

Sebelum berangkat ke kampus, aku tak lupa mengirim pesan padanya, minta doa. Agar aku sampai kampus tepat waktu. Agak berlebihan memang. Tapi kata temanku, ada beberapa cewek yang gemar menerima “update status” dari teman cowoknya. Entah benar atau tidak. Toh “dia” tidak protes selama ini. Ah, rupanya busku sudah datang.

Macet! Maklumlah, kota metropolitan dengan berlebihnya jumlah kendaraan yang tidak diiringi peningkatan infrastuktur yang memadai. Jika macet diibaratkan seperti pisang goreng, maka aku tidak perlu sarapan lagi. Kekenyangan, bahkan. Demi mengusir rasa bosan yang mampir, aku memilih menghubungi dia. Kami bercerita, saling mengejek, dan kemudian tertawa. Penumpang lain terlihat tertanggu dengan suaraku yang lumayan terdengar. “Kalau mereka terganggu pasti menegurku”, pikirku. Dan sejauh ini belum ada yang memberikan isyarat atau menepuk bahuku.

(hehe, sampai titik ini ketiduran dan lupa sebelum tepar tadi mikirin apa)

Kampus sudah terlihat dan sopir bus mulai memberlambat laju busnya. Akupun pamit kepada dia diiringi dengan beberapa gombalan picisan. Aku bergegas ke kelas karena perkuliahan sebentar lagi dimulai.

Lepas kuliah, aku kembali mencari telepon genggamku. Nihil! Saku kecil di tasku kini tak berpenghuni. Panik, kutanya semua teman yang duduk di dekatku. Mereka menggeleng tidak tahu. Di pikiranku hanya satu. Ikon surat di layar smartphone-ku. Aku mondar-mandir mencari barang yang tak kunjung kutemukan itu. Padahal, adzan zuhur sudah berkumandang sejak bel keluar kelas. “Pasti ada yang nyembunyiin nih”, pikirku. Sebab, pasti sudah kutemukan sejak tadi jika mobile phone-ku terjatuh mengingat aku sudah thowaf ruangan kelas hampir 7 kali. Pokoknya, awas saja!

“Mas, ini hape sampeyan. Tadi… ” kata Siti, temanku. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, langsung kurebut gadget kesayanganku dari tangannya. Lantas kucecar ia dengan berbagai khotbah dan sumpah serapah. Matanya berkaca-kaca. “Terserah dia. Apa peduliku? Salah sendiri nyembunyiin hapeku”, gumamku. Puas dengan tumpahan amarah, aku berlalu dengan Siti yang masih berdiri di tempatnya. Kepalanya tertunduk. Persetan dengan itu. Aku bergesas mengecek layar handphone. 2 pesan tak terbaca. Tersungging sebuah senyum di bibirku.

Sembari berjalan ke warung terdekat, aku asyik berkutat dengan handphone-ku. Bahkan menyebrang jalanpun tak kutengok kanan kiri. Toh, aku menyebrang dengan pejalan kaki lain dan tidak mungkin jika pengendara kendaraan yang melintas tidak memperlambat lajunya saat kami menyeberang.

“Maass!” Aku mendengar teriakan. “Huh?”, heranku. Belum sempat aku merespon, aku merasakan benturan keras. Tidak sakit memang atau kejadian itu terlampau cepat sehingga aku tidak merasakan nyeri yang seharusnya ada. Dan gelap. Masih dengan telepon seluler di tangan.

“Mas sudah subuh”, ujar seseorang. Aku kaget setengah mati dan sejurus terduduk. “Mas tadi lepas isya ketiduran di masjid ini”, katanya. “Ha?”, timpalku. Dan aku melihat sebuah kitab kecil yang tersemat erat di genggamanku. Al-Quran Al-Karim. La yamassuu illal muthohharun, begitu yang tertulis di sampulnya. Tidak ada ikon surat dan gagang telepon berwarna merah disana. Aku tertegun.

P.S: Gw gak punya android dan gw ngampus naik sepeda

Kemana, bung?

Assalamualaikum

Tidak, saya bukan kondektur bus dan terima kasih picisannya. Ngomong-ngomong soal bus, ada kelakar: Orang Inggris itu nggak konsisten. Cobak aja. Tulisannya “bus”, bacanya “bas”, dan artinya “bis”. Haha *ketawagaring*. Penasaran, gw buka KBBI dan hasilnya: Dalam bahasa Indonesia, benda tersebut namanya bus dan bacanya bus juga. Artinya juga begitu. Ternyata Orang Indonesia konsisten. Engrish fail!

Eniwei, tadi saya ke kampus fakultas kedokterannya UR. Sharing tentang Tim Bantuan Medis. Sekalian cuci mata. Bosen kan, liat yang itu-itu aja. Hehe. Bangunannya, yang saya maksud. 😀

Kami, anak Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Abdurrab membawa bala tentara sepeleton yang lapar berat. Ilmu tentang TBM adalah rainbow cake yang jarang dimakan kopral. Bahkan jarang tentara yang tahu tentang cake tersebut. Ya, kami sedang merintis berdirinya TBM di prodi kami. Sebagai pencontek ulung pionir, kami bertandang ke markas TBM FKUR dengan misi mencari masukan yang sebanyak-banyaknya demi berdirinya TBM.

Kami duduk, dan “laskar perintis” *ceilah* TBM FKUR sedang mempresentasikan UKM mereka. Dan gw dengan tampannya ngobrol sendiri di belakang. Emang gak niat ni orang satu. Eh, ralat. Gak mungkin kan, ngobrol sendiri? Ngobrol bertiga. Saya dan dua insan manusia dengan hasduk biru yang mengalung cantik. Atribut khas. Niat untuk mencekik salah satu dari mereka dengan hasduknya sendiri saya urungkan. WTF, brain?

Brain… Wat r u doin? Brain… STAHP!

Sontak saya tekan tombol stop guna mengakhiri adegan cekik-mencekik di otak saya. Takut terjadi beneran.

Ternyata, dua homo sapiens tadi adalah ketua dan sekretaris TBM. Untung gw nggak caci TBM mentah-mentah sewaktu ngobrol. Bisa-bisa gw dibius pake kurare dan mereka ngelitikinku dan gw gak bisa gerak. Sadis.

Back to the presentation had being delivered, gw atensi sama pernyataan bang Citra, salah satu founder TBM FKUR. Dia bilang: “Percuma jika sekelompok orang dan mereka nggak commit. Mending bubar. Lha, gimana bisa commit saat commitment yang harus dipegang nggak ada.” Perkataan beliau gw modif. Secara gw poor banget dalam hal ingat-mengingat. Pokoke intinya gitu.

Hem. Betul tuh apa yang dinyatakan bang Citra. *halah*. Ideologisasi dan pengakaran adalah mutlak. Okelah, komitmen tentang tujuan sekelompok orang yang bertujuan sama masih terpegang teguh saat ia masih hangat. Namun, apakah hal ini berlangsung abadi? Nggak ada salahnya jika lauk kemarin malam dihangatkan lagi, kan?

Jadi inget alun-alun kidul Jogja dan mitos beringin kembarnya: masangin. Emang siapa sih yang bisa jalan lurus dari ujung lapangan sampai ke antara dua beringin kembar itu? Lu gimana?

I dare you!

Sama seperti belanja. Terkadang kita lupa prioritas belanja karena keasyikan.

Boring, ah. Dengerin repetisi visi ini, repetisi misi itu.

Emangnya ideologisasi hanya dengan penyampaian visi dan misi secara formal? Kan enggak. Be creative, guys! Sisipin dengan gaya bahasa yang nyantai waktu ngobrol, et cetera. Pikir dewek.

Ah udah ah. Besok ada tutorial.

Well, then. Bukankah kondektur bus yang tidak meneriakkan tujuan bus secara jelas tidak mendapat penumpang satupun?

 

 

 

Tepar

Assalamualaikum

Well, I’m unwell.

Ya, saya agak meriang. But that shouldn’t be a problem. Shouldn’t. Kenyataannya, yaaa… tepar.

Semua ini gara-gara terlalu semangat muter-muter pekanbaru cari vendor kaos. Mendingan kalo siang. Malem! Ditambah lagi seminggu lalu memforsir stamina waktu LKMM. Phew!

Padahal gak jauh-jauh amat

Yah, ambil hikmahnya aja deh: Ada yang nelfonin, ada yang beliin bubur, ada yang ngejek-ngejekin, ada yang bangunin pake kaki. Maksud dia baik kali. Ngecek gw masi idup apa udah dut.

Rasulolloh S.A.W bersabda: “Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim).

Asik gak? So, ch3mMung9Ud|-| 3a44!

Doanya ya?

Design a site like this with WordPress.com
Get started