Assalamualaikum
Dini hari, manteman sekalian
Lama nggak nongol nih. Keasyikan macul, sih.
Mencoba sejenak lari dari hiruk-pikuk dunia dan bertapa di WC.
Dia tidak pernah bermain dadu. Adalah kebaikan hambaNya yang Ia prioritaskan dalam mengkonduktori orkestra kehidupan. Walaupun kebaikan itu jauh dari nalar akal manusia yang memang ada batasnya, dari kacamata manusia tentu. Entah efeknya muncul di kemudian hari atau di kehidupan selanjutnya, Wallohu a’lam. Yang pasti, mereka yang percaya hal itu kehidupannya terdengar seperti partitur paling merdu.
Aku ngelantur opo to?
Emboh.
Well, something happened. Dan itu ada kaitannya dengan hati.
Mulai… curcol…
Seseorang pernah bilang: “Cinta itu buta. Maka jika kamu ingin melihat, lihatlah sebelum kamu jatuh cinta”
Untungnya aku belum jatuh terlalu dalam. Jadi gak buta-buta amat.
Justru aku berterima kasih pada dia yang seharusnya membuatku cemburu. He saved me.
Maka inilah aku, mencoba membuka mata yang dulu buta. Walau harus memandang pilu senja yang berlalu bersama selendang malam yang menjemputnya. Mengapa matahari terasa hangat memeluk saat ia sebentar lagi sirna?
Tenang, mas. Besok akan ada matahari yang terbit lagi. Membawa kehangatan fajar setelah dingin malam yang menusuk sampai hati, ujarku pada cermin di kamar mandi.
