Hape

“Hapeku mana?”, jeritku dalam hati. Ternyata tertindih di sebalik bantal. Sejurus kurenggut. Tidak ada ikon surat atau gagang telepon berwarna merah. *sigh

Aku masih terduduk. Mengalihkan pandangan dari telepon seluler ke sekelilingku. Kasur sederhana dengan selimut dan bantal yang sekarang bukan berada di tempat yang seharusnya. Segelas kopi yang tinggal ampsanya mengingatkan malam yang aku terjaga bersamanya. Seingatku, angka 02:15 lah yang kulihat sebelum aku benar-benar terlelap. Di sampingnya, buku materi kuliah yang seharusnya kubaca tadi malam belum terjamah sejak kemarin siang.

Kudekatkan kembali telepon selulerku ke wajahku. Riwayat pesan. Tercatat 79 pesan masuk sejak kemarin siang, tidak termasuk pesan keluar yang kurang lebih sama jumlahnya. Layaknya lepas makan eskrim, menjilati luberan di tangan sungguh nikmat. Maka kubuka kembali isi pesan demi pesan, walau tidak semuanya. Aku tersenyum.

Low battery. Tanpa diperintah, aku mengambil catu daya dan menghubungkannya dengan telepon selulerku. “Kok nggak masuk ya?”, gumamku. Lampu indikatornya tidak menyala. Pasti mati lampu.

Mati lampu, namun kamar sudah terang. “Jiah, udah jam setengah enam”, sadarku. Dan aku belum sholat subuh! Sejurus kuambil air wudu lantas sholat.

Lepas sholat, aliran listrik kembali seperti yang seharusnya. Aku kembali sibuk dengan seluler android keluaran terbaru milikku. Sebenarnya tidak ada alasan pasti mengapa aku memilih smartphone satu itu. Hanya mengikuti trend. Sebab aku sama sekali tidak tertarik dengan beragam aplikasi yang ditawarkan. Bagiku, se-smart apapun ia, tetap saja namanya phone. Alat komunikasi. Yang pasti, “dia” menggunakan handphone yang sama denganku. Ah, entahlah.

“Selamat pagi,….”, ketikku dalam pesan singkat kepada orang yang sedari kemarin aku berhubungan dengannya. Gayung bersambut, tak sampai 2 menit ia membalas. Dari titik itu, aku tidak lagi peduli dengan sekelilingku. Bahkan terhadap teman serumah yang nampaknya belum sholat subuh juga. “Ah, mungkin ia sudah solat sebelumku”, pikirku, mengigat sajadah yang masih terhampar di depan kamarku -dimana kami serumah sering sholat, yang kulihat sebelum sholat subuh tadi.

Seharusnya aku mengikuti titah ibuku: “Nak, bakda subuh itu bagusnya kamu baca Quran. Biar otakmu selalu diisi denganyang baik-baik sejak bangun tidur”. Well, besok kan masih ada waktu.

Sebelum berangkat ke kampus, aku tak lupa mengirim pesan padanya, minta doa. Agar aku sampai kampus tepat waktu. Agak berlebihan memang. Tapi kata temanku, ada beberapa cewek yang gemar menerima “update status” dari teman cowoknya. Entah benar atau tidak. Toh “dia” tidak protes selama ini. Ah, rupanya busku sudah datang.

Macet! Maklumlah, kota metropolitan dengan berlebihnya jumlah kendaraan yang tidak diiringi peningkatan infrastuktur yang memadai. Jika macet diibaratkan seperti pisang goreng, maka aku tidak perlu sarapan lagi. Kekenyangan, bahkan. Demi mengusir rasa bosan yang mampir, aku memilih menghubungi dia. Kami bercerita, saling mengejek, dan kemudian tertawa. Penumpang lain terlihat tertanggu dengan suaraku yang lumayan terdengar. “Kalau mereka terganggu pasti menegurku”, pikirku. Dan sejauh ini belum ada yang memberikan isyarat atau menepuk bahuku.

(hehe, sampai titik ini ketiduran dan lupa sebelum tepar tadi mikirin apa)

Kampus sudah terlihat dan sopir bus mulai memberlambat laju busnya. Akupun pamit kepada dia diiringi dengan beberapa gombalan picisan. Aku bergegas ke kelas karena perkuliahan sebentar lagi dimulai.

Lepas kuliah, aku kembali mencari telepon genggamku. Nihil! Saku kecil di tasku kini tak berpenghuni. Panik, kutanya semua teman yang duduk di dekatku. Mereka menggeleng tidak tahu. Di pikiranku hanya satu. Ikon surat di layar smartphone-ku. Aku mondar-mandir mencari barang yang tak kunjung kutemukan itu. Padahal, adzan zuhur sudah berkumandang sejak bel keluar kelas. “Pasti ada yang nyembunyiin nih”, pikirku. Sebab, pasti sudah kutemukan sejak tadi jika mobile phone-ku terjatuh mengingat aku sudah thowaf ruangan kelas hampir 7 kali. Pokoknya, awas saja!

“Mas, ini hape sampeyan. Tadi… ” kata Siti, temanku. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, langsung kurebut gadget kesayanganku dari tangannya. Lantas kucecar ia dengan berbagai khotbah dan sumpah serapah. Matanya berkaca-kaca. “Terserah dia. Apa peduliku? Salah sendiri nyembunyiin hapeku”, gumamku. Puas dengan tumpahan amarah, aku berlalu dengan Siti yang masih berdiri di tempatnya. Kepalanya tertunduk. Persetan dengan itu. Aku bergesas mengecek layar handphone. 2 pesan tak terbaca. Tersungging sebuah senyum di bibirku.

Sembari berjalan ke warung terdekat, aku asyik berkutat dengan handphone-ku. Bahkan menyebrang jalanpun tak kutengok kanan kiri. Toh, aku menyebrang dengan pejalan kaki lain dan tidak mungkin jika pengendara kendaraan yang melintas tidak memperlambat lajunya saat kami menyeberang.

“Maass!” Aku mendengar teriakan. “Huh?”, heranku. Belum sempat aku merespon, aku merasakan benturan keras. Tidak sakit memang atau kejadian itu terlampau cepat sehingga aku tidak merasakan nyeri yang seharusnya ada. Dan gelap. Masih dengan telepon seluler di tangan.

“Mas sudah subuh”, ujar seseorang. Aku kaget setengah mati dan sejurus terduduk. “Mas tadi lepas isya ketiduran di masjid ini”, katanya. “Ha?”, timpalku. Dan aku melihat sebuah kitab kecil yang tersemat erat di genggamanku. Al-Quran Al-Karim. La yamassuu illal muthohharun, begitu yang tertulis di sampulnya. Tidak ada ikon surat dan gagang telepon berwarna merah disana. Aku tertegun.

P.S: Gw gak punya android dan gw ngampus naik sepeda

althaffathan's avatar

About althaffathan

A daydreamer.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started