Hujan

Hal pertama yang teringat adalah: Jemuran! To the pemean, at the double!

Phew! Selamat sudah pakaian esok hari. Masak iya, besok kuliah pake kain sarung? “Sholat Dhuha, Pak Haji?”, bisa-bisa ditanya gitu nanti.

Setelah sibuk mengeringkan diri yang basah karena drama penyelamatan jemuran, saya tertegun memandang halaman rumah. Pikiran berkecamuk. Kelebat demi kelebat bayangan lewat. Kata orang sih, hujan membuat indera manusia menajam, termasuk otak. Ia akan mampu diajak bekerja lebih. Makanya, orang galau kebanyakan saat hujan.

Pun aku. Eeeaaaaaa….

Jadi, kukumpulkan fragmen-fragmen jiwa, kususun aksara demi aksara, dan kuterjemahkan dalam tulisan berima:

 

Awan hitam menyelimuti cakrawala

Cepat berlomba dengan lambat kepak bidadari surga

Mentari meringkuk bersembunyi

Pijarnya kian melemah, sembilu hujan akhirnya menusuknya mati

Dinda, sesuatu telah berubah

Cerah menjelma basah

Dan riuh rendah rintiknya membuatku resah

Saat karenanya, birama cinta tak lagi terdengar indah

 

Sebenarnya ini dokumen lama, sih. Tapi gapapa, kan? Daripada galau gak jelas…

Selamat menikmati hujan!

althaffathan's avatar

About althaffathan

A daydreamer.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started